Thursday, March 20, 2014

Musisi 70-an dalam Sejarah Musik Cadas di Tanah Air

Musisi 70-an dalam Sejarah Musik di Tanah Air
MH. Alfie Syahrine

Kugiran Musik pada Jaman Orde Lama
    Pada saat Bung Karna masih memegang jabatan sebagai Presiden RI  terkesan ada  kecenderungan memakai nama Indonesia untuk kugiran lokal saat itu dikarenakan mungkin mereka takut pada penguasa Orde Lama yang saat itu sangat anti Barat terutama pada periode tahun 1950-an hingga menjelang akhir 60-an, maka dapat dilihat nama nama band yang ada asli menggunakan nama Indonesia seperti ; Band  Panca Nada, Band Arulan, Orkes Bayu, Band  Zaenal Combo, Orkes Suita Rama, Orkes Simanalagi, Orkes Gaya Remaja, Orkes Irama Nada, Orkes Nada Kentjana, Orkes Prima Nada, Orkes Tjandra Kirana,Orkes Seni Maya, Orkes Mustika Rama,Orkes Sahabat Lama, Orkes Suwita Rama, Band Eka Sapta, Band Ayodhia, Band Medenasz, Orkes Rachman A, Band Diselina, Band Quarta Nada, Band Bina Ria dll hingga awal kedatangan era Orba dengan bermunculannya band-band seperti : Band Parwita Junior,Band Aria,Band Aria Junior, Band Darma Putra Kostrad, Band Elektrika,The Memory, De Prinz, The Brims (Brimoresta), D’Hand,The’Matador, Band Halpers, Koes Plus, Pandjaitan Bersaudara, Usman Bersaudara atau Kembar Group. No Koes, Madesya Group, Ivo’s Group, Band Vista, Band D’Mecy , The Rhythm Boy’s dll.



Soman Lubis
    Musik cadas pada era 1970-an memang tidak terpisahkan dari fenomena munculnya kugiran musik anak-anak muda selepas tumbangnya Orde Lama, pintu modernisasi dibuka lebar- lebar oleh rezim Orde Baru dan orientasi musik anak-anak muda kita mulai kearah Barat yang banyak membawakan musik cadas terutama dari Inggris yang  merupakan sarang dan barometernya musik cadas dunia saat itu yang mana di era Orde Lama musik macam ini sangat dilarang keras oleh Presiden Soekarno karena dianggap musik barat tidak sesuai budaya bangsa Indonesia, sehingga semua yang berbau rock’n roll harus diritul/ diberangus sebagai contoh Koes Bersaudara saja kena kebijakan anti Barat itu dikarenakan mereka menyanyi dengan gaya The Beatles yang mana mereka dijebloskan ke hotel prodeo yaitu penjara Glodok. Setelah Bung Karno tidak lagi menjabat sebagai presiden maka segera saja bermunculan kugiran kugiran yang meniru kugiran  musik cadas dari luar negeri.

 AKA Group, Kugiran Cadas Sangar Papan Atas Yang Paling Disegani


Penggunaan Nama- Nama Kugiran Cadas Indonesia Dekade 1970-an 

    Dalam blantika musik Indonesia, khususnya untuk nama kugiran biasanya dianggap penting, karena mempunyai arti simbolis serta sekaligus dapat mencerminkan jenis musik yang dimainkan. Selain itu, nama biasanya menandakan kugiran musik itu dilahirkan pada periode tertentu. Dekade 1970-an sedang gencar-gencarnya muncul gelombang musik cadas maka kugiran kugiran cadas-pun bermunculan di Indonesia dengan nama yang tidak meng-Indonesia lagi sesuai trend yang ada di Barat.

     Nama-nama kugiran cadas Indonesia dekade 1970-an  umumnya menggunakan bahasa Inggris karena penggunaan bahasa Indonesia untuk nama kugiran cadas di negeri ini sering dianggap “culun” atau “udik” alias kampungan. Para pemusik lebih sering memberi nama kugiran-nya dengan nama bahasa Inggris. Mereka beranggapan dengan nama “cas-cis-cus” itu untuk nama kugiran musiknya akan terkesan lebih garang dan mentereng seperti kugiran Suprkid dengan master andalannya Deddy Sutansyah dimana kemudian namanya-pun dia ubah pula menjadi Deddy Stanzah.

    Mereka inilah generasi pertama pemusik cadas Indonesia yang penuh bakat dan inovatif, disamping itu mereka-pun di besarkan namanya oleh  Majalah Aktuil  yang sejak  era 1967-an mengkhususkan diri sebagai  pioneer majalah musik dan gaya hidup remaja perkotaan itu .Banyak  kugiran saat itu yang muncul antara lain: Giant Step, Freedom of Rhapsodia, Bentoel & Mickey Michael Merkelbach The Rollies, The Rhythm Kings,Golden Wings, C’Blues, God Bless, Young Gipsy, AKA, SAS, The Templars, Superkid, Freedom, Shark Move, Menstril’s, Great Session, The Amateur, Destroyer, Lime Stone, Voodoo Child, Mama Clan’s, Freemen, Reg Time, Silver Train, Free Men, Black Spades, Ireka, The Rhadows, Chekinks, Equator Child, Double Zero, Ternchem Stallion, Lizard, Paramour, Big Brothers, ODALF, Sea Men, Fancy, Zonk, Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Bani Adam Band, G’Brill, Batu Karang, Red&White, Topics & Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Paramour, Finishing Touch, Freedom , Lizard, Big Brothers, Brotherhood, Speed King, Oegle Eyes dll.

Go International 

    Anehnya walaupun dengan perangkat sound system dan kapasitas studio yang masih serba  minim namun di era 1970-an banyak lagu-lagu dari kugiran cadas Indonesia saat itu yang dapat melampaui lintas batas negara atau istilah kerennya Go International  padahal saat itu teknologi dunia rekaman kita masih pas-pasan “cuma 4 track doang” kata anak- anak band saat itu tetapi berbekal semangat dan bakat alam yang kuat mereka dapat mencipta dan menyanyikan lagu-lagu versi Inggris dengan sangat baik, dan salutnya lagi, lagu-lagu versi Inggris mereka banyak disukai di luar negeri bahkan hingga masuk Top Ten Terbaik di BBC ataupun ABC  seperti AKA, SAS, dan Rollies ataupun Silver Train dimana  lagu-lagu mereka sempat bertengger pada Top Ten Radio Australia.

 SAS, Lagu Mereka Pernah Go Intenational

    Pertunjukan musik cadas pada era awal 1970-an hingga tahun 1976 sangat mendatangkan keuntungan dan para musisi beraliran hangar binger itu, mereka mengalami masa keemasan saat itu .Banyak gadis yang tergila-gila pada mereka dan menjadi groupist kemana mereka show selalu diikuti. Sejak kehadiran musik cadas di percaturan musik negeri ini, pertunjukan mereka selalu dibanjiri oleh penonton dan mengundang sambutan gegap-gempita di setiap kota bahkan di pelosok pelosok di seantero Indonesia.

 Ucok (AKA) yang Selalu Sensasional !

Media yang Menopang Kejayaan Musik Cadas

    Memang saat itu tidak dapat dipungkiri bahwa musik panggunglah yang merupakan arena yang paling berhasil memasyarakatkan musik  cadas di Tanah Air ini di samping radio-radio dan majalah seperti Aktuil., Junior, Plamboyan, Varia Nada dan TOP serta beberapa majalah musik musiman yang tidak begitu dikenal ikut pula meramaikan masa kejayaan musik cadas di Tanah Air namun yang menjadi rujukan bagi anak anak muda saat itu hanya majalah Aktuil dan TOP karena kedua majalah musik ini memiliki banyak wartawan yang berkaliber raksasa yang mana setiap tulisan maupun reportase-nya selalu menarik dan ditunggu-tunggu oleh para kawula muda penggila musik cadas saat itu.

 Majalah Aktuil

    Aktuil memiliki Denny Sabrie, Remy Silado, Bens Leo, Iphik Tanoyo, Zan Zappa, Buyung dll sedangkan TOP memiliki Theodore KS, Daniel Alexy, Martha Boerhan, Zainuddin Tamir Koto (Zatako), Robbani Bawi dll. Persaingan antara kedua majalah musik inipun sangat luar biasa dimana mereka banyak memberikan bonus sticker maupun poster yang wah dan sudah jelas membuat remaja penggila musik cadas  saat itu tidak sayang mengeluarkan uang dari kocek mereka kedua majalah itu wajib dimiliki oleh para remaja penggila musik cadas saat itu.
 
Tempat Tempat Pertunjukan Musik Cadas Di Era Tahun 1970-an

    Untuk tempat pertunjukan di Jakarta, Theater Terbuka TIM, Taman Ria Monas dan Istora serta Stadiun Utama Senayan (untuk pertunjukan Deep Purple tanggal 4 & 5 Desember 1975) menjadi tempat favourite anak-anak muda yang paling sering didatangi untuk pertunjukan musik cadas karena harga tiketnya murah meriah yang mana dapat terjangkau oleh kocek mereka yang rata rata masih duduk dibangku SMA dan Perguruan Tinggi sedangkan Convention Hall (Balai Sidang) menurut mereka itu merupakan tempat kaum borju  yang tidak sesuai dengan semangat  dan jiwa cadas serta kocek mereka!.

    Sedangkan di Bandung ada Gelora Saparua, Lapangan Tegal Lega dan Gedung Merdeka menjadi tempat paling sering untuk pertunjukan musik cadas saat itu sedangkan untuk kugiran musik mungkin Bandunglah tempatnya karena disana ada seabreg  kugiran antara lain Savoy Rhythm, Provist (Progressive Student), Diablo Band, The Players, Happiness, Thippiest, Comets, DD (Djogo Dolok), Jack C’llons, C’Blues, Memphis (yang kemudian menjadi Man Face), Delimas, Rhapsodia, Batu Karang, The Peels, Shark Move, Red&White, Topics & Company, The Rollies, Philosophy Gang Of Harry Roesli, Giant Step, Paramour, Finishing Touch, Freedom ,Lizard, Big Brothers dan masih banyak lagi.Banyak dari mereka yang sukses bahkan bertahan namun tidak sedikit yang bertumbangan ditengah jalan dan ada pula para vokalisnya yang dapat bertahan tetapi berganti genre musiknya bahkan ke Dangdut seperti Jajat Paramour.

    Sementara Medan memiliki Stadion Teladan, Wisma Ria ataupun Taman Ria dengan kugiran cadas-nya seperti Rhythm Kings, Minstreals,The Great Session, The Foxus, Amateur, The Rag Time, Six Men, Grave Men, Copa Tone, Bhineka Nada, Black Spades dan Destroyer, disamping itu tentu saja masih ada banyak kugiran cadas lainnya yang dahsyat seperti Freemen .

    Sedangkan kota Solo dijuluki sebagai kota ketiga di Indonesia memiliki Stadion Manahan untuk tempat perhelatan musik cadas saat itu. Untuk kugiran musik dijumpai sederet nama yang patut dikedepankan, misalnya Yap Brothers, Tercnhem, Ayodhia, Scorless dan Fair Stone. Dari sekian nama tersebut ada beberapa yang berhasil  beken, namun ada pula yang terlanjur “tewas”. Setelah Yap Brothers hijrah ke Jakarta, Tercnhem dan Ayodhia pun sekarat, dan Scorless tidak lama kemudian bubar !.

    Sedangkan Semarang pada dekade 1970-an merupakan sentral hingar bingarnya musik cadas di Jawa Tengah. Musik di Semarang dilanda trend musik cadas ala Deep Purple, Led Zeppelin, dan sebagainya. Ada tiga nama kugiran musik yang cukup disegani keberadaannya yaitu, Mama Clan’s, Dragon, dan Fanny’s. Mama Clan’s, kugiran semarang yang satu ini tidak hanya berkiprah di kota asalnya, tetapi juga mampu menaklukkan penonton di kota Kembang Bandung yang dikenal sebagai gudangnya kugiran cadas pada dekade 1970-an. Mama Clan’s bahkan juga mampu menawan hati publik Jakarta dengan manggung di Taman Ria Monas tanggal 20 Oktober 1973. Kugiran dari Semarang lainnya bernama Spider, tetapi entah kenapa berubah bernama menjadi Voodoo Child ketika ikut perhelatan musik “Pesta Kemarau 75” di Bandung.

    Surabaya memiliki segudang kugiran cadas diera 70-an.  Musik AKA merupakan kugiran cadas yang lahir dari kota ini dan dianggap sebagai pelopor musik underground di Indonesia. AKA juga mengusung aksi-aksi panggung yang tidak lazim dipertunjukan ketika itu, karena menampilkan aksi peti mati dan tiang gantungan. kugiran dan pemusik lainnya yang terbentuk di kota yang sama, meliputi AKA, Oorzaak, Yeah Yeah Boys, Lemon Tree’s, D’Hand, Gembels dan Rock Trikel serta SAS dll.

    Sedangkan kota Malang hanya memiliki sedikit kugiran musik yang eksis pada waktu itu, antara lain: Irama Abadi, Bentoel, Opet, Zodiak dan Swita Irama. Hampir semua kugiran itu adalah kugiran musik perusahaan atau  yang dibentuk dan didanai oleh instansi atau lembaga tertentu. Sama seperti di Semarang terbentuknya kugiran  musik di Malang pada zaman Orde Lama biasanya bermula dari band sekolah. Tidak seperti di Jakarta, atau Surabaya banyak anak-anak muda Malang ingin bermain musik namun tidak mempunyai alat-alat yang cukup karena harganya mahal. Akhirnya band bisa terbentuk dan manggung setelah didanai oleh suatu perusahaan besar. Nama-nama band yang muncul pun mengikuti nama perusahaan sponsor, seperti band Bentoel. Double Zero dari nama perusahaan rokok Orong Orong dll. Kota Malang pernah dianggap sebagai barometer musik cadas di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Mayoritas warga Malang pada dekade 1970 menggemari musik cadas seperti Deep Purple dan Rolling Stone. Pernah ada suatu angket yang dibuat radio-radio amatir waktu itu dan memang kebanyakan kawula muda di kota Malang menggemari musik cadas sampai keakar akarnya dan hebatnya lagi hal itu masih berlanjut dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Tidak Ada Satupun Lagu Indonesia Di Atas Penta

    Bila kugiran cadas sedang manggung mereka sekan-akan Inggris-lah bahasa mereka sehari-hari karena semua lagu yang mereka nyanyikan berbahasa Inggris dimana mereka dapat dengan fasihnya  menyanyikan lagu-lagu seperti dari; Deep Purple, Jefferson Airplane, Ten Years After, Moody Blues, Camel, Rainbow, Nazareth, Rush, Gentle Giant, Black Sabbath, King Ping Meh, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Yes, King Crimson, Iron Butterfly, Rainbow, Judas Priest, Uriah Heep, Man Fred Man Earth Band, Rick Wakeman, Johny Winter, Edger Winter, BS & T (Blood Sweat & Tears), Chicago, ELP, Santana, Tower of Power, Jetro Thull, Rolling Stones, STYX, Jimmy Hendrix, Frank Zappa, Rick Wakeman dll .

Mengapa Mereka dijuluki Superstar ?

    Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik cadas di era taun 1970-an. Gaya panggung musik cadas di Indonesia sudah meniru kugiran musik dari Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an. Meskipun secara musikal suatu kugiran musik cadas tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi apabila tidak didukung dengan aksi panggung yang memadai maka kugiran tersebut akan terlihat atau terkesan “culun” alias kampungan .Aksi panggung bagi suatu kugiran cadas saat itu sangat perlu diperhatikan agar permainannya tidak kelihatan “katro”.

    Selain itu ekspresi wajah juga harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang ”uedyan” juga akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik cadas  dan sensasinya  terkadang dapat mendongkrak popularitas dari pemusik itu sendiri.

    Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik cadas memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak keras terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya.

    Aksi panggung para kugiran cadas dekade 1970-an umumnya cenderung bersifat teatrikal dll atau dengan aksi panggung bakar-bakaran gitar model Blackmore atau Jimmy Hendrix dll. Jadi dalam suatu pertunjukan musik, pemusik tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi panggung yang sejalan dengan aliran musiknya. Aksi  pertunjukan para wadia balad musik cadas Indonesia banyak terinspirasi oleh gaya panggung para musisi Barat. Sebagian kugiran musik cadas pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil “gokil” abiizz di atas panggung.

    Musik Cadas era 1970-an di dunia termasuk di Indonesia adalah musik panggung, karena hal itu merupakan tuntutan penonton untuk mendapatkan hidangan aksi panggung yang gawatnya harus nyaris sama seperti pemain atau penyanyi aslinya. Gokilnya, para musisi kita saat itu dapat berinkarnasi bak para pemain musik Barat layaknya walaupun hanya ditopang oleh alat-alat musik yang masih dikatagorikan sederhana seperti Arthur Kaunang gaya main keyboardnya sangar dan banyak pengamat saat itu yang mengatakan kegarangannya diatas panggung nyaris seperti Keith Emerson, sedangkan Adhi keyboardist Equator Child dan Deddy Dores mereka sering berakrobat dengan kadangkala dance diatas keyboardnya sambil menggunakan kaki mereka dalam memainkan tuts keyboardnya.

     Deddy Dores yang juga disebut-sebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Ritchie Blackmore-nya  Indonesia karena gaya dan permainanya nyaris sama dengan Blackmore seperti yang diuraikan oleh Riza Sihbudi dalam sebuah tulisannya disamping hobby-nya  menghantamkan gitarnya ke sound system atau membanting-bantingkan guitarnya hingga berantakan hal inipun sama dilakukan oleh Atauw guitarist andalan kugiran Equator Child, kugiran cadas yang berasal dari Pontianak yang kemudian berhijrah ke Jakarta itu diawal tahun 70-an sangat dielu-elukan oleh banyak remaja Ibukota maupun tanah air karena disamping kehebatan para pemainnya mereka juga ditopang oleh Imran sang vokalis yang nyentrik, Raden Bonnie Nurdaya atau lebih dikenal sebagai Bonnie Rollies guitarist kebanggaan Rollies itu  gaya permainan gitarnya sering diasosiasikan pada Steve Howe sedangkan Harry Minggus banyak kalangan mengatakan gaya petikan bass-nya seperti Chris Squire.

    Kugiran cadas AKA/ SAS memiliki Sunatha Tandjung yang kedahsyatan permainannya selalu diasosiasikan dengan Jimmy Page dimana dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga dalam melengkapi kedahsyatan permainan guitarnya. Pada suatu kesempatan dia pernah berkomentar seusai menonton konser Deep Purple pada 4 & 5 Desember 1975 bahwa permainan Tommy Bolin itu biasa biasa saja  belum lagi Syeh Jeffry Abidin yang dapat julukan John Bonham-nya Indonesia dan jujur penulis akui bahwa permainan Tuan Syeh ini dahsyat dan super mantab sebagaimana beberapa kali penulis saksikan aksi panggungnya baik sewaktu di AKA maupun setelah di SAS pada era awal hingga pertengahan tahun 1970-an.

Gaya Sunatha Tandjung Yang First Class!

    Sementara Yongkie yang kemudian dikenal sebagai Yockie Suryoprayogo  mulanya dikenal sebagai keyboardist handal dari kugiran Zonk dan Fancy pada awal tahun 70-an sangat dikagumi penonton karena “kelihaian”nya memainkan keyboard dan dia bertambah terkenal sewaktu diajak Donny Fatah kawanannya di kugiran Fancy untuk bergabung ke God Bless dimana Yongkie saat itu sering disebut sebut sebagai inkarnasinya Patrick Moraz atau John Lord-nya Indonesia karena memang permainannya yang sangat apik (pada beberapa album Chrisye dan solo albumnya dimana gaya permainannya nyaris seperti Patrick Moraz) sehingga membuat John Lord terkagum kagum manakala Yongkie memainkan keyboardnya pada lagu Celebration (PFM) dengan wadia balad God Bless ketika kelompok cadas itu dipercayakan Denny Sabrie sebagai band pendamping Deep Purple pada tanggal 5 Desember 1975 di Stadiun Utama Senayan, sementara Albert Warnerin lead guitarist kelompok progressive rock Giant Step dari Bandung itu disebut-sebut sebagai Jeff Back-nya Indonesia dimana pemainannya gitarnya nyaris sempurna (pada album Giant on the Move) belum lagi Benny Soebardja yang vokalis merangkap giutarist II Giant Step itu kerap dijuluki sebagai Alvin Lee-nya Indonesia, sedangkan Atauw gitaris andalan Equator Child diawal tahun70-an dia disebut sebut sebagai bayangannya Ritchie Blackmore dan Jimmy Hendrix.

    Odink Nasution sang pemetik  guitar dari  kugiran Young Gipsy dan beberapa lainnya di era 1970-an itu oleh banyak penggemar musik cadas dijuluki sebagai kembarannya Steve Hackett (pada album-album LCLR, Keenan Nasution dan Harry Sabar serta Guruh Gipsy), sedangkan Debby Nasution yang di era 1970-an dikenal sebagai keyboardist andalan Young Gipsy, Barong Band serta Genk Pegangsaan oleh banyak penggemar musik prog permainan keyboardnya seperti permainan Matthew Fisher (Procol Harum) dan Tony Bank (pada album 1&2 Gank Pegangsaan).

Debby Nasution & His Genk Pegangsaan Friends

    Sedangkan abangnya Keenan Nasution sudah terlanjur diberi predikat Bill Bruford-nya Indonesia (pada album "Dibatas Angan Angan" dan album album berikutnya) Fuad Hassan dan Teddy Sudjaya banyak disebut sebut sebagai Ian Paice-nya Indonesia dengan gebukan gebukan drumnya yang sangat mantab. Sedangkan untuk vokalisnya, Bangun Sugito atau yang lebih dikenal sebagai Gito Rollies sering dijuluki sebagai James Brown-nya Indonesia bila dia bernyanyi dan bergaya di atas pentas. Sementara Delly Djoko Alipin banyak disebut-sebut memiliki suara yang nyaris sama dengan Jim Rutledge vokalis kugiran Bloodrock kugiran super yang berbasis di Texas Amerika itu sedangkan Ucok Harahap mascotnya AKA, Bernard Parnadi, Guntur Simatupang dan Jose Tobing  disebut sebut pula sebagai Alice Cooper lokal. Sebagai sumber rujukan untuk gaya pertunjukan mereka peroleh melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker, Cream, Billboard atau Pop Foto dan foto sampul PH. PH tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.

Aksi Panggung Yang Sensasionil Para Vokalis Musik Cadas Era 70-an

Aksi Panggung Achmad Albar & God Bless

    Nampaknya penggunaan peti mati  merupakan bagian aksi panggung yang dapat menopang keberhasilan aksi sebuah kugiran di era 1970-an seperti ungkap Yockie Suryo Prayogo dalam sebuah wawancara kami disebuah stasiun radio swasta beberapa tahun yang lalu. Saat itu menggunakan peti mati dalam pertunjukan musiknya seperti pertunjukan mereka pada tanggal 5-6 Mei 1973, dimana untuk pertama kalinya God Bless tampil di depan Theater Terbuka Taman Ismail Marzuki dengan berekperimen berbagai macam kemunculan termasuk dengan menggunakan peti mati dan mayat hidup. Selain itu Albar menggunakan mayat hidup yang membawakan lagu "Nurlela" adalah sebagai semacam peringatan bagi pemusik-pemusik yang bisanya hanya “membeo” dan menerima apa adanya. Scahmmy Tampangoema yang menjadi setan laki-laki dalam pementasan God Bless bertanya kepada Ahmad Albar, mengapa memakai peti mati dan mayat segala. Schammy mendapat jawaban bahwa hal itu dilakukan hanya sekedar meramaikan pertunjukan saja dalam pementasannya di TIM pada tanggal 24 dan 25 Mei 1973, pada puncak acara God Bless menyuguhkan aksi teatrikal dengan dua buah peti mati. Diawali dengan bunyi lonceng besar, kemudian peti itu dibuka dan dua orang pria dan wanita yang didandani seperti layaknya sepasang mayat keluar serta bernyanyi dengan lagu yang berjudul nurlela dari penyanyi Bing Slamet dengan yang suara fals untuk menimbulkan kesan horor.Waktu itu Ahmad Albar berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari kugiran musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya.

    Namun bukan itu saja sensasi yang tercipta dari suatu aksi panggung yang akhirnya menjadi kerusuhan yang terjadi waktu God Bless manggung, ketika pertunjukan God Bless di lapangan basket kota Malang pada tanggal 4 Agustus 1974 dalam rangka tour pertunjukannya ke Jawa Timur pertunjukan mereka memakan banyak korban luka-luka karena mereka penasaran ingin melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. God Bless on the stage!. Banyak dari penontonnya yang rata-rata adalah kaum muda saling dorong dan berdesak-desakkan ingin masuk lebih dahulu ke dalam lapangan, alhasil penonton yang berada pada bagian depan yang sudah berada di pintu bagian depan berjatuhan tidak kuat menahan desakan dari belakang. Pihak panitia dan keamanan tidak kuasa membendung arus penonton yang datang begitu banyak ke tempat tersebut. Walaupun pertunjukan musik God Bless belum dimulai, tetapi korban yang jatuh sekitar 20 orang lebih dan banyak di antara mereka tidak sadarkan diri.

    Selain mempelopori penggunaan efek asap dari "dry ice" di atas panggung, kugiran musik ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang baru  di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik.

    Pada pertunjukan Deep Purple tanggal 5 Desember 1975 Achmad Albar dan God Bless yang menjadi band pendamping Deep Purple dimana malam itu Iyek merasa mendapat sambutan yang sangat meriah akan penampilannya setelah melemparkan lagu Celebration milik kugiran prog dari Italia PFM maka diapun menyulut kembang api dimana sontak saja Stadiun Utama Senayan berubah menjadi arena huru hara yang begitu massive dan belum pernah terjadi sebelumnya dimana saat itu bukan hanya kembang api yang beterbangan akan tetapi juga bangku bangku dan pokok kayu kayu penyangga bangku menjadi bola api beserta kepulan asap yang membuat sesak napas dan pemandangan ini menurut salah seorang teman penulis tak ubahnya seperti sebuah pertunjukan “Hanoman Obong” dalam cerita epic Ramayana.

Aksi Panggung Ucok Harahap & AKA
 
    Para vokalis kugiran cadas era 70-an nya banyak dijuluki secara beragam oleh para penggemarnya dengan ulah panggung yang aneh-aneh seperti yang sering dibuat oleh Ucok Harahap dengan predikat Alice Cooper yang sudah melekat padanya dimana dalam salah satu penampilanyang paling ”Gokil”nya  sewaktu dia beserta kugirannya AKA manggung di TIM pada tanggal 9-10 Novermber 1973 dimana Ucok cs tampil bersama kelompok cewek Gigi Girls dari Taiwan.Ucok tampil mengagetkan penonton dalam suatu atraksinya, sambil menyanyikan lagu "Crazy Joe" tiba-tiba dia menaiki pagar tembok theater terbuka TIM lalu berlari-lari diatas genting yang kemudian tahu-tahu  dia sudah muncul di panggung kembali bak orang kesurupan lalu dia dicambuk, diikat kakinya dan digantung  kemudian  ditikam oleh  seorang algojo serta dimasukan ke peti mati, atraksi ini sontak mendapat sambutan yang sangat gegap gempita karena baru kali itu masyarakat Jakarta disuguhkan penampilan yang “Gokil” seperti itu tapi anehnya dibalik panggung Ucok nampaknya benar benar seperti orang kemasukan jin iprit penunggu pohon pohon besar yang masih merindangi TIM saat itu. Ucok mengelepar-gelepar bak ikan yang kepanasan didarat, untung saja saat itu ada Remy Silado (yang saat itu masih muda dan ganteng dengan rambutnya yang panjang terurai bak punggawa musik cadas pula) yang memang dengan pengalamannya yang luas Remy sudah faham akan segala hal yang berkaitan dalam dunia show biz dengan beragam trick dan ensofor-ensofor panggung lainnya yang mana dengan segera dia menyirami Ucok dengan seember air yang mana membuat Ucok gelagapan seperti orang kebingungan. Dalam salah satu aksi pertunjukan “euidyan” yang lainnya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul "Sex Machine", dia seakan-akan kesurupan dan memperagakan adegan bersenggama dengan keyboardnya yang diasosiasikan sebagai pasangannya . Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, dia dimasukkan ke dalam peti mati.  Di era 70-an Ucok Harahap tercatat sebagai vokalis musik cadas yang paling “Gokil” atraksi panggungnya dan selalu mengundang sensasi serta kegaduhan namun para penontonya sungguh sangat menikmati akan aksi-nya. Maka tidaklah salah bila Ucok diberi predikat "Alice Cooper Van Surabaya".

Aksi Panggung Arthur Kaunang & SAS
 
    Diwaktu sedang jaya-jayanya SAS, dunia panggung nyaris dikuasai oleh mereka semua, volume pementasannya nyaris  sama  banyaknya  dengan  pementasan  Superkid, dari  mulai  Surabaya,  Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta hingga pelosok-pelosok yang terpencil di Indonesia menjadi demam SAS. Malang yang dikenal sebagai kota yang sangat kritis dan sangar  terhadap setiap pertunjukan musik cadas namun ternyata tidak selamanya pertunjukan musik cadas  disana akan berakhir dengan aksi pelemparan batu kayu maupun sendal dari penonton disana, mereka sangat obyektif dalam menilai kualitas musik dan penampilan kugiran cadas yang datang kesana. Sewaktu SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut ternyata sambutan kaula muda disana berbeda tidak ada satu butir pun kerikil atau sandal dan batu yang terbang melayang ke atas panggung.

    Mungkin para penonton merasa kagum dan segan dengan wibawa dan permainan SAS yang hebat itu disamping penguasaan mereka akan lagu-lagu ELP yang nyaris sempurna oleh karenanya tidak ada alasan bagi arek-arek malang itu untuk membuat kegaduhan bahkan setiap lagu yang dimainkan selalu mendapat sambutan yang membahana. Sebagaimana hal yang sama terjadi pada Kockpit di era 80-an yang mana mereka sangat dielu-elukan disana.Gaya gebukan Syeh Abidin yang mantab, petikan gitar Sunatha Tandjung yang melengking mulus sempurna dan betotan bass yang garang serta permainan keyboard yang brutal dari Arthur Kaunang membuat SAS menjadi salah satu kugiran cadas yang paling disanjung dan dihormati di kota Malang dan mereka pantas disejajarkan dengan God Bless, Rollies,Superkid dan Giant Step.

 Arthur Kaunang: Keyboardist yang paling sangar aksi panggungnya


    Salah satu kelebihan SAS adalah mereka sangat menguasai  blocking  panggung  walaupun hanya dengan tiga personel, Arthur dengan postur tubuh seperti wong londo dengan rambut panjang yang nyaris sepinggang itu biasa membuat para penonton menjadi histeris dengan permainan solo keyboardnya dimana dia begitu  garang  di   panggung sampai terkadang dia bergelintingan dilantai sambil memainkan  bass guitar atau menjungkirbalikan keyboardnya dan dimainkannya dilantai panggung serta kadang -kadang  keyboard-nya  itu dibuat seperti kuda yang dia jepit dengan kedua belah pahanya.Organ Farfiza, Hammond dan Yamaha yang dimainkan oleh Arthur nyaris selalu dijungkirbalikan dilantai panggung  olehnya!, namun karena itu merupakan bagian daripada sensasi SAS yang paling digemari penonton maka Arthur terus memainkan atraksinya itu!.

    Belum lagi Tuan Syeh yang satu ini dia begitu mantab  dalam menggebuk deretan drum set dan cymbal serta hentakan kedua kakinya pada double bass drumnya. Atraksi yang paling membuat surprise penonton manakala Syeh beranjak dari deretan drum set yang mengelilinginya dan langsung menggantikan Arthur bermain bass terutama dalam lagu "From The Beginning". Sunatha juga tidak kalah hebatnya dia sering memainkan guitarnya sambil memutar-mutarnya di udara sehingga menciptakan raungan yang memekakan telinga melengkapi kedahsyatan permainan Trio Rock handal itu. Pertengahan tahun70an hingga penghujungnya benar-benar merupakan ‘Golden Era’ untuk Super Trio Progressive dari kota Buaya itu.


Hujan Batu

    Namun diantara kesuksesannya, SAS pun pernah juga mengalami nasib na’as yang sebenarnya bersifat non musikal seperti ketika pertunjukan musik perdana mereka di Taman Ria Monas pada pertengahan Februari 1976, dimana mereka mengalami sedikit kekacauan karena gangguan listrik yang kurang diantisipasi oleh fihak Taman Ria Monas sebagai penyelenggara karna sejak kedatangan Deep Purple di Senayan, SAS memang telah membuat  revolusi baik dalam sound system maupun lighting mini ala Deep Purle walapun kapasitasnya baru pada tingkat belasan ribu watts yang mana jelas membutuhkan daya listrik yang extra saat itu.

    Ketika kelompok ini memainkan lagunya yang kedelapan, yaitu lagu milik kugiran musik Deep Purple, tiba-tiba listrik mati. Akibat dari adanya gangguan listrik tersebut maka pertunjukan musik SAS tidak bisa dilanjutkan dan penonton merasa kecewa dan marah pada penyelenggara yang kemudian melampiaskannya dengan melemparkan batu-batu dan sandal serta apa saja yang bisa dilempar ke arah panggung, sehingga membuat beberapa peralatan musik SAS rusak.

    Kerusuhan penonton juga terjadi di Surabaya, tepatnya ketika SAS melakukan pertunjukan di kota tersebut. Kerusuhan itu bermula saat mereka baru memulai pertunjukannya selama satu jam dan tiba-tiba listrik mati. Gangguan listik ini mengakibatkan kugiran tersebut tidak bisa melanjutnya pertunjukkan musiknya. Penonton tidak bisa menerima keadaan yang terjadi dan melampiaskannya dengan melemparkan sandal, sepatu, batu-batu serta kayu ke arah panggung dan mengakibatkan kerusakan pada peralatan musik dan akibat pelemparan batu itu menimbulkan yang sangat besar saat itu.

Aksi Mickey Michael Merkelbach & Kugiran Bentoel

    Munculnya Bentoel Rock Band di Malang pada tahun 1970-an yang mengorbitkan nama-nama rocker kelas wahid seperti Mickey Michael Merkelbach, Ian Antono, Teddy Sujaya yang mana membuat wadia balad cadas tanah air terbelalak. Mereka berdecak kagum dengan penampilan kugiran cadas dari kota Malang ini. Kugiran cadas dengan vokalis andalannya Mickey Michael Merkelbach ini sudah terbiasa meneriakan lagu- lagu cadas milik Rolling Stones, Led Zeppelin dan Deep Purple dengan melodi yang lebih garang. Mickey sendiri adalah rocker blasteran  Sukabumi dan Jerman.

    Kugiran cadas Bentoel saat itu merupakan salah satu kugiran yang  hebat untuk ukuran Indonesia dan banyak show telah mereka lakukan dan yang lebih mengangkat nama kelompok ini adalah penampilan vokalisnya Mickey Michael Merkelbach yang seringkali berlaku aneh yang berbau horor dan sadis, gaya panggungnya mirip seperti Mick Jagger sangat urakan  atau berlaku   seperti  Ozzy  Osbourne bahkan Alice Cooper. Kugiran cadas Bentoel adalah kugiran yang paling populer di kota Malang. Pada 1971-1973 mereka  yang sangat aktif melakukan tour ke berbagai kota di Indonesia. Pada akhir Agustus ’73 di Gelora Saparua, Bandung, Bentoel (malahan saat itu, Ian Antono masih sebagai ‘drummer’ kugiran cadas asal Malang tersebut sebelum bergabung dengan God Bless pada tahun 1975) mereka sempat tampil bersama God Bless dan The Philosophy Gang of Harry Roesli pada acara pagelaran berlabel ‘Anti Narkotika’ di bandung, saat itu Denny Sabri yang dikenal sangat pelit dalam memberi pujian terhadap musisi cadas Tanah Air namun sempat pula terkagum-kagum dengan gaya Mickey Mikelbach dan memberi pujian pada Mickey sebagai seorang Super Star lokal yang kurang modal dikarenakan belum pernahnya dia tinggal diluar negeri seperti Achmad Albar yang mempunyai reputasi Internasional.

    Mickey Mikelbach sang vokalis yang perawakannya tinggi besar merupakan perpaduan antara Mick Jagger dan Steve Tylor dalam aksinya bahkan lebih “uedyan” dari Ucok AKA. Seperti yang diperlihatkannya ketika tampil bersama Arista Birawa, ZB 101, dan penyanyi Filipina Victor Wood di Gelora Pancasila Surabaya tanggal 18 Februari 1973. Dalam pertunjukan itu, tanpa diketahui panitia Mickey mengeluarkan seekor kelinci dari sebuah tas di sudut panggung. Setelah mulutnya komat-komit seperti membaca mantra, Micky mengelus-elus kelinci itu, dibelai dan dicium, tetapi kemudian secara tiba-tiba kelincinya itu dicekiknya, kemudian dilempar dan ditikam dengan belati yang sudah dipersiapkan ke tubuh binatang malang itu. Darah kelinci pun muncrat dan Mickey pun menghirupnya dan penonton terkejut. Berharap mendapat sambutan, Mickey malah menerima teriak berupa  kemarahan dari para penonton agar turun dari panggung.

    Ketika itu juga aliran listrik ke peralatan musik di panggung dihentikan oleh panitia dan Mickey kugiran Bentoel diminta menghentikan penampilannya karena pertunjukan yang menegakkan bulu roma itu merupakan perbuatan yang mengarah kepada aksi sadisme dan dicaci maki serta dikutuk banyak orang sampai akhirnya mereka harus turun panggung.

   Mickey yang biasa menampilkan aksi sadistis seperti yang tertulis di atas, maka dalam suatu pertunjukannya bersama band barunya Oegle Eyes di Taman Remaja Surabaya, ia tidak lagi menampilkan adegan menghisap darah binatang sebelumnya yang telah berhasil mengorbitkan namanya, seperti gaya suaranya yang tetap keras, hoby-nya bernyanyi sambil berjongkok-jongkok, main sodok stick mike serta berlengggang-lenggok, ditambah dengan demostrasi main kipas serta mengkibas-kibaskan rambut seperti halnya permainan kuda lumping.

 Mickey Superstar Kebanggan Kota Malang

    Nama kugiran cadas Bentoel bertambah terkenal oleh karenanya dan sewaktu Bentoel tampil di “Jakarta Fair 1974″, mereka dilirik God Bless yang sedang ancang-ancang mencari pengganti Nasution Bersaudara (Keenan Nasution (drum), Debby Nasution (keyboard) dan Oding Nasution (gitar). God Bless terkesima melihat permainan dua personel Bentoel Teddy Sujaya (drum) dan Ian Antono (gitar) ini. Tak lama berselang atas ajakanYockie yang saat itu bersama Sammi Zakaria yang tinggal di Malang merekapun bersedia direkrut untuk gabung ke God Bless dan setelah itu otomatis Bentoel-pun sekarat apalagi  sponsor utamanya Pabrik rokok Bentoel menarik diri setelah Ian dan Teddy cabut, tanpa adanya sponsor tersebut maka kegiatan group ini pun praktis terhenti dan bubar!.

Aksi Soleh Sugiarto &  Kugiran  Freedom


    Lain Mickey lain pula Soleh Sugiarto mascotnya Freedom dimana diantara kesuksesan penampilan panggungnya Soleh dan teman-temannya tidak urung pula kena protes. Pernah pula saat mereka tampil di Semarang pada bulan Mei 1974  dimana Soleh Sugiarto Danaatmadja sang vokalis yang malam itu mengenakan jubah putih sambil berlari-lari membawa obor, yang menyala nyala menyanyikan lagu berjudul La Ilaha Ilallah milik group Osibisa dari Ghana.Tembang ini dianggap membuat sensasi dan dan sontak memicu kehebohan saat itu.

 Kikky, DaveTahuhey, Utte M Taher, J Sarwono dan Soleh Sugiarto Danaatmadja

    Pasalnya para penonton menjadi marah dan protes dengan keberanian Soleh & Freedom membawakan lagu tersebut, karena dapat dikatakan inilah lagu pop pertama kali yang memakai kalimat ayat suci Alquran,  yang seharusnya dipergunakan untuk memuja dan memuji Allah & Rasul-Nya (dalam bahasa Arab) malah dinyanyikan dalam suasana pertunjukan musik cadas yang gegap-gempita penuh dengan jingkrak-jigkrak  hal jelas ini membangkitkan amarah para penonton karena saat itu walaupun mereka menyukai musik cadas tetapi mereka masih sangat religious dan tidak suka hal-hal yang bersifat sakral itu dibawa keatas panggung. Bahkan, para jurnalis dan pengamat musik Semarang saat itu ikut-ikutan berang dan menilai bahwa lirik-lirik lagu yang dibawakan Soleh tersebut tergolong ‘liar’ dan dianggap menghina Tuhan. Akibatnya, pihak berwajib melarang pemutaran lagu itu di seluruh radio-radio swasta di Jawa Tengah.

    Begitu juga seperti yang terjadi dalam pertunjukan Pesta Musik Kemarau 75 di Bandung, nasib na’as-pun nyaris pula menimpa kugiran cadas kebanggaan kota Bandung ini yang mana karena mungkin kelewat lama dalam menyetem alat musik hingga membuat penonton menjadi tidak sabar dan hujan batu, sepatu dan sandal pun terjadi, salah satu sandal yang beterbangan itu ada pula yang nyangsrang di kepala Soleh, sang vokalis kugiran musik tersebut yang mana membuat anak-anak  Freedom terpaksa ngacir cari selamat !.

Aksi Panggung Jose Tobing & Freemen
 
    Jose Tobing mascot kugaran Freemen ini memiliki aksi panggung yang sangat prima. Jose misalnya bisa menyanyi sambil berguling atau bernyanyi sambil disalib, melompat dan berlari, dimasukkan dalam peti mati seperti yang dilakukan oleh Ucok Harahap dari AKA.Vokalis Freemen ini dalam melakukan aksi-aksi teatrikal di atas panggung  ditopang pula oleh Ujang sang bassist nyentrik idola anak-anak Medan waktu itu selain the best, tongkrongannya yang tinggi seperti Londo dan berkulit cerah serta aksi panggungnya tidak membosankan dan Ujang-pun sering bertelanjang kaki bahkan kadang bakar-bakaran sapu bila beraksi di atas panggung dan hal ini adalah menjadi salah satu gaya tarik dari kugiran cadas Medan satu ini disamping itu, Boss Freemen, John Leo, yang lebih dikenal dengan sebutan Ta Long sangat mahir mengutak- atik peralatan listrik dan sound system  guna untuk dapat meningkatkan kekuatan sound system  kugiran asuhannya akibatnya ketika Freemen manggung, suara musiknya menggelegar dan membuat ciut nyali kugiran saingannya. 

    Freemen pernah pula tampil sepanggung dengan AKA di Stadion Teladan Medan pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1974. Mereka tampil all out untuk mendapat simpati dan perhatian penonton dan anak-anak Freemen memang boleh kita saluti karena walapun menyandang predikat band lokal tapi mereka punya nyali gede meskipun bersanding satu panggung  dengan  kugiran super sekelas AKA. Dikurun waktu  tahun 1974-1975 Freemen merupakan kugiran cadas perkasa yang disegani oleh para saingannya.


Aksi  Guntur Simatupang &  Kugiran  Destroyer

    Destroyer, kugiran cadas satu ini memang nyaris sama dengan Freemen kugirannya Jose Tobing yang mengandalkan aksi-aksi panggung yang menegangkan merupakan group yang didanai oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan merupakan salah satu kugiran yang disegani di Medan karena kehebatan sang vokalisnya Guntur Simatupang yang memang mempunyai kelebihan dalam stage act maupun olah vokal  yang pantas diacungi jempol dimana semua remaja di seantero Medan tidak akan  tidak kenal dengan nama Guntur Simatupang yang kerap berjungkir balik diatas panggung itu. Saat itu Guntur dijuluki Alice Cooper dari Medan. Banyak aksi panggung Guntur Simatupang yang membikin penonton gelagapan. Suatu sa’at dia pernah menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Guntur Simatupang beranggapan justru dengan melakukan atraksi-atraksi yang aneh itu, groupnya dapat menanjak dengan pesat dan dikagumi oleh anak-anak muda  Medan yang memang terkenal sangat kritis dan nyaris radikal. Dalam soal kreasi Guntur Simatupang merupakan orang yang tidak pernah puas, oleh karena itu dalam setiap pertunjukan musiknya, ia selalu berusaha membuat segala keanehan-keanehan dan melakukan aksi adegan teatrikal. Destroyers malang melintang tanpa sedikitpun ciut nyali menghadapi  pesaingnya seperti; Great Session, Freemen, The Rhythm Kings, Minstrel’s dll bahkan dengan God Bless. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitive. Sehingga pernah terjadi pelarangan terhadap Guntur  pada aksi panggungnya di Medan dia dilarang tampil oleh pihak keamanan. Pelarangan ini dilakukan karena pihak keamanan takut gaya panggungnya akan dicontoh oleh kalangan kaum muda di Medan.

Guntur Simatupang; Ular Python pun Dibawanya Pula Keatas Pentas

    Guntur pernah bernyanyi dengan cara digantung; dia memanjat ke atap panggung, kemudian kakinya digantung di atas atap panggung sementara kepalanya menjulur ke bawah. Selain itu ia juga pernah membawa ke atas panggung empat puluh ekor ular yang ditangkapnya sendiri dari parit-parit sekitar pinggiran kota Medan dan hal itu telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Guntur selalu melakukan atraksi pertunjukan dengan melibatkan ular-ular tangkapannya di atas panggung. dan ular-ular yang sering dipakai oleh Guntur Simatupang dalam atraksinya dianggap membahayakan keamanan para penonton yang dikhawarirkan salah satu binatang berisa itu memangsa penonton khususnya penonton di bagian depan. Selain itu ada pula satu hal yang telah menjadi kebiasaan dalam pertunjukan musiknya. Karena ulahnya yang aneh-aneh saat itu Guntur lantas oleh para remaja Medan  dijuluki Alice Cooper dari Medan. Pada waktu memeriahkan Festival underground di Yogyakarta Guntur menaiki tangga sampai ke atas dan memukul lonceng yang ditaruh di atas dengan keras sekali hingga menggetarkan telinga para penonton. Destroyer juga terkadang mempertunjukkan atraksi bakar kemenyan yang diiringi oleh lagu-lagu seram semacam upacara orang-orang yang masih primitif. Memang saat itu Guntur lain dari  yang lain!.

Aksi Panggung Bernard Parnadi & Group Ternchem
 
    Bernard vokalis dari kugiran cadas ini berekpresi seperti orang kesurupan di atas pentas musiknya. Kugiran Ternchem dari Solo ini  terkenal juga karena aksi panggung pertunjukannya yang mempertunjukkan ular, api, dan peti mati. Dalam satu pertunjukannya di Malang Ternchem membawakan suguhan lagu berjudul "Into The Fire" dari Deep Purple yang dibawakan dengan versi Bernard sang vokalis. Dia muncul dengan keadaan kepala terbakar. Nyala api ini terus berlangsung hingga ke akhir babak pertama yang puncak dari babak ini adalah adegan bunuh diri Bernard yang kemudian dimasukkan dalam peti mati dengan diiringan lagu dari Rolling Stone yang berjudul "Coming Down Again". Namun demikian Ternchem masih menyisakan atraksi yang lebih istimewa lagi.

    Dalam pemunculan babak kedua yang dilalui tanpa setegang babak pertama, vokalis Bernard yang didampingi seekor ular dalam lagunya yang terakhir, sempat merogoh uang saku, dan dihamburkan lembaran-lembaran uang ratusan dan lima puluhan yang merupakan uang sisa honor mereka. Gaya pertunjukan panggung grup Ternchem dikenal mengambil gaya panggung Alice Cooper, yang melengkapi penampilannya dengan atraksi bermain ular serta masuk peti mati ditutupi bendera Amerika Serikat. Aksi teatrikal kugiran musik ini juga dilakukan ketika mereka pentas di Palembang dan Malang tahun 1974.

 Bernard (Ternchem) Dengan Aksinya

    Dimana Onny dari Ternchem dalam suatu pertunjukannya di Semarang bernyanyi dengan berani dan eksentrik, menggambarkan orang yang sedang masturbasi, bersenggema dengan berdiri!. Pertunjukan dengan memakai ular, api, dan peti mati masih diperlihatkan Ternchem pada pertunjukan Musical Show Penutup Tahun 1972. Dalam satu pertunjukannya di gedung Gelora Pancasila Surabaya Juni 1974, Ternchem yang biasanya menyuguhkan atraksi pertunjukan panggung dengan peti mati untuk kali ini tidak bisa menampilkan atraksi tersebut karena ada gangguan teknik dari alat-alat.

Aksi Panggung Joe Santos & Fanny’s Group
 
    The Fanny’s Group ini memang mempunyai PDOD di atas panggung mereka sering menyanyikan musik-musik keras, kugiran yang digawangi oleh Joe Santos alias Joko Santoso,Tugi Wiyono (organ),Alex Soeharso(lead guitar),Yunarto (drum),Andhi Siksanto (bass), Yoyok B Hartono (rhythm I), Juwoto Sunanto (rhythm II), The Fanny’s Group adalah  kugiran cadas yang paling terkenal dari kota Semarang. Kugiran ini didirikan pada akhir tahun 1968. Pada awal pemunculannya The Fanny’s Group nyaris banyak mendulang kritik dari masyarakat bahkan yang berwajib sering pula memberi peringatan. Kugiran cadas satu ini walaupun sering pula membawakan lagu-lagu cengeng bahkan dangdut namun mereka mempunyai aksi panggung yang “gokil” pula hal ini dibuktikan sewktu mereka ikut memeriahkan  Jambore Band Se-Jateng di Semarang.Aksi pertunjukan teatrikal Fanny’s Group juga ditampilkan lagi ketika mereka pentas di Yogyakarta bersama group Ambisi awal Oktober 1975.

The Fanny’s Group

    Dalam aksinya Joe Santos dan The Fanny’s Group-nya sering menyuguhkan kepada penonton adegan adegan usungan mayat menyerupai wujud drakula yang begitu sampai di hadapan penonton, mayat tersebut bangun dan bernyanyi. Menjelang akhir lagu, satu adegan lagi sang drakula ditusuk secara mendadak dengan sebilah pisau panjang oleh Yanto. Gaya yang lain yang disuguhkan oleh Fanny’s Group  untuk lebih menarik para penonton, Joe Santos  sang vokalis begitu “uedyan”nya dalam membawakan sebuah lagu sampai-sampai baju putih yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa itu dirobekkan sampai lumat perilakunya di pentas bak orang yang sedang kerasukan “jin iprit” disamping itu diapun gemar pula  mencorang moreng  badan dan mukanya  ala hippies. Mereka bak hippies yang saat itu masih tidak disukai oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia tapi gaya anehnya mereka itu justru digemari oleh anak anak muda Semarang saat itu.Band ini pada tahun 1977 pernah sempat juga tampil sepanggung dengan Giant Step dan Jam Session bersama diatas panggung yang mana mendapatkan sambutan hangat dari penonton.

Aksi Panggung Deddy Stanzah & Superkid
 
    Memang tidak dapat disangkal setiap personil Superkid memiliki kemampuan diatas rata rata hingga pantas mereka disebut Superkid!. Deddy Stanzah showmanship-nya sangat mengagumkan dia dapat berkomunikasi dengan penonton dengan menggunakan yel-yel bahasa Inggris yang sangat fasih nyaris seperti bule  yang mana disambut oleh para penonton dengan kata-kata “Yes,Yes, Kemon ..Tancap Ded ! ” ungkap mereka dengan rasa tidak sabar mendengarkan coletahnya Deddy Stanzah yang menggunakan bahasa Inggris terus dimana sebagian anak anak muda saat itu tidak faham akan artinya. Deddy Dores yang sangat hidup stage act- nya baik waktu bermain guitar maupun keyboard apalagi dengan hadirnya Gito Rollies sebagai bintang tamu yang menyanyikan  lagu "Rock ‘n Rock Bird"  berduet dengan Deddy Stanzah membuat penonton menjadi histeris.


 Deddy Dores, Blackmore Van Java !

    Atraksi yang menjadi trademark-nya Superkid adalah hampir disetiap pertunjukannya mereka memulai dengan menembakan dry ice ke drum set-nya Jelly Tobing disusul dengan tembakan lampu warna warni dari lighting system yang apik disertai dengan  kepalan tangan yang disilangkan oleh Deddy Stanzah untuk menyapa penonton dengan bahasa Inggris yang fasih. Pada kurun waktu 1976-1977 benar benar merupakan era keemasan Superkid, dimana-mana para remaja di seantero Indonesia terkena wabah Superkid apalagi di Bandung dan Jawa Barat serta Jakarta.Mereka menjadi sangat penasaran untuk menyaksikan penampilan kugiran garapannya  Denny Sabri  yang penuh dengan sensasi itu. Keunggulan utama Superkid ini memang terletak pada gaya panggung Deddy Stanzah yang memikat disamping accent Inggrisnya yang nyaris seperti bule belum lagi gaya main gitar Deddy Dores yang dalam aksinya kerap menghantam guitar yang dimainkannya ke sound system hingga berantakan atau membanting-bantingnya hingga patah berkeping-keping belum lagi bila dia bersolo keyboard dimana Deddy menjungkir balikan keyboard dengan ganasnya model Keith Emerson hingga membuat penonton menjadi berteriak-teriak bahkan para gadis yang menonton menjerit-jerit histeris. Sedangkan Jelly tidak kalah “gokil”nya di setiap show Superkid dia selalu meng hamtamkan stick drum-nya kederetan drum yang mengelilinginya sampai stick itu patah- patah bahkan drum yang dia mainkan tidak jarang sampai jebol !. Diantara kesuksesan ada pula nasib na’as yang dialami Trio rock Bandung ini  seperti dalam pertunjukan yang dilakukan oleh  Superkid dan SAS

    Dalam konser ini sempat terjadi kekacauan, Superkid nyaris dilempari kayu  dari potongan- potongan kursi yang rusak. Kekacauan ini timbul karena penonton di bagian belakang tidak dapat lagi melihat wajah-wajah pemain dari Superkid. Dan saat na’as lainnya mereka alami pula umpamanya sewaktu show  perdana mereka di TIM pada tahun pertengahan tahun 1976 setelah menyanyikan lagu lagu hot lalu Deddy Stanzah dengan guitar akustik dan harmonikanya membawakan lagu “Just Once More” dimana jidatnya saat itu nyaris benjol kena timpukan para penonton yang tidak menyukai lagu yang dinyanyikan oleh Deddy yang sepertinya  mencla mencle yang bukan lagu  cadas  seperti yang inginkan kawula muda yang menonton malam itu. Album-album Superkid yang banyak menggunakakan bahasa Inggris yaitu : "Trouble Maker" dan "Dezember Break". .Mereka memiliki lagu-lagu andalan yang sering mereka nyanyikan dipanggung antara lain: Trouble Maker, Sixty Years On, How, Blue Light City ,Futher In The Sea, I Saw Her Standing There, Southtern Woman, Foot Stomping Music,Tommy, Come back To Me, My Iggy, Living On The Jet Plane, Just Once More,  City of  Devil , People dll.

Aksi  Panggung Vokalis Usuf Alwi & Kugiran Hooker Man
 
Inilah kugiran cadas dari Tanjung Priok yang dicukongi oleh Walikota Jakarta Utara  yang oleh banyak anak anak muda dan pengamat musik di pertengahan era 70-an disebut sebut sebagai specialist-nya Deep Purple. Kehandalan foramsi Hookerman jilid dua ini diuji pada bulan Agustus tahun 1976  kugiran yang diisi oleh mantan anak anakdari kugiran X Ray ini terdiri dari Zali (guitar), Harry Minggus (bass), Djoni (drum),  Pungky (keyboard) dan  Usup Alwi (vocal )  yang mana walaupun suaranya tidak pernah sampai 4 oktaf namun gaya panggungnya asyik untuk dilihat bahkan nyaris mengundang gelak tawa penonton karena dia bernyanyi dan jingkrak jingkrak dipanggung dengan PD abis Malam itu Hookerman naik panggung sebagai  pendamping tour show perdana kugiran kelas wahid dari Bandung Superkid di TIM Jakarta dimana saat itu mereka tampil menakjubkan dengan kostum ala Queen mereka menggebrak TIM dengan membabat  lagu Burn-nya Deep Purple yang sontak mendapat tepuk tangan riuh dari penonton terutama ketika melihat gaya Usup Alwi sang vokalis yang tongkrongan dan tampangnya mirip bule nyaris seperti David Coverdale dimana pada  malam itu dia pede abizz dengan tampil all out  yang mana hal itu menimbulkan kelucuan tersendiri hingga para penonton banyak yang tertawa terbahak bahak(termasuk penulis) melihat aksi Usup yang nyaris tidak terkontrol itu namun nampaknya presepsi Usup berbeda, dia menganggap penonton tambah tertarik akan penampilannya itu  maka tambah “syur”lah dia beraksi di panggung Theatre Terbuka TIM tersebut tapi Usup masih tetap dapat sambutan meriah dari penonton yang  rata rata ingin menyaksikan pertunjukan perdana Superkid di TIM malam itu. Saat na’as dialami oleh anak anak Priok ini dimana selepas sukses menyanyikan beberapa lagu Deep Purple malam itu,Usup Alwi sang vokalis memberitahukan penonton bahwa untuk lagu berikutnya adalah lagu yang berjudul “Sabun Maya” yang mana dia memasukan jari teluncuknya kedalam genggaman tangan kirinya yang maksudnya bermasturbasi  dan sontak penonton meresa jengah sehingga mereka berteriak teriak menyuruh Hookerman turun.Teriakan-teriakan itu kemudian meningkat menjadi tindakan-tindakan yang brutal dari penonton dimana batu,sepatu dan sandal beterbangan kearah Usup Alwi karena saat itu bagi anak anak muda Jakarta ungkapan itu masih dianggap tabu rock yes, pornography no !.

    Sesungguhnya Hookerman pantas di acungkan jempol karena kemampuan bermusik mereka sangat bagus belum lagi gaya Harry Minggus yang menarik dan mantab-nya permainan drum Djoni yang memang mantab dan asyik untuk dilihat serta dinikmati maka jadilah Hookerman sebagai band yang pantas dan patut diperhitungkan pada era pertengahan tahun 1970-an itu. Almarhum Denny Sabrie secara khusus pernah memuji mereka selepas mendampingi Superkid di TIM sebagai sebuah kugiran cadas  yang penuh semangat, berkali-kali Hookerman mendampingi God Bless dan Superkid sebagai  kugiran  pembuka di Theater Terbuka TIM pada awal dan pertengahan tahun 70’an. Yaya Muktyo pernah diajak membantu penampilan Hookerman walaupun bukan sebagai drummer tetap dia hanya diminta membantu Hookerman dalam shownya di Bandung dan TIM. Setelah itu Hookerman mengalami bongkar pasang kembali dan setelah itu Hookerman pun menghilang tanpa terdengar lagi beritanya, namun nama Usup Alwi, Zali, Djoni, Pungky  dan Harry Minggus masih tetap dikenang oleh para kawula muda era 1970-an terutama yang rajin datang ke Theater  Terbuka TIM untuk menonton pagelaran – pagelaran musik cadas saat itu.

Aksi Panggung Carel Simon & Golden Wing

    Inilah kugiran cadas dari Palembang yang awalnya dicukong oleh sebuah pabrik kecap yang bernama “Tong Hong” di mana sang Boss membelikan  peralatan musik untuk Golden Wing dan merekrut Fit Kien dan Karel Cassidy alias Carel Simon yang mana dikemudian hari ternyata bernama Kasim Kasidi .Dalam suatu pertunjukan satu panggung dengan kugiran cadas dari Bandung Freedom Carel beratraksi seakan dia disalib diatas pentas dan atraksinya itu ternyata mendapat sambutan dari penonton Palembang yang didominasi oleh kaula muda dimana mereka merasa bangga memiliki kugiran lokal yang bisa menyaingi  kugiran super  dari kota kembang itu.

What Goes Up Must Come Down
          
    Itulah hukum alam yang berlaku, setelah berjaya sejak mulainya Orde Baru pada akhirnya toh musik cadas di Tanah Air harus menerima kenyataan dimana di akhir tahun tujuh puluhan para pengusung musik cadas harus legowo merelakan era kejayaan  mereka harus berakhir dengan munculnya era musik Disco dan New Wave di dunia dan Tanah Air sehingga musik cadas  nyaris hilang dan terlupakan. Nama nama seperti Benny Soebardja, Albert Warnerin, Debby Nasution, Guntur Simatupang, Triawan Munaf, Sunatha Tanjung, Syeh Jefry Abidin, Iqbql Taher, Rizaldi Siagian, Joe Santos, Bernard Pirnadi dll para kampiun musik cadas era 70-an di Negeri ini nyaris tidak dikenal lagi oleh generasi masa kini. Sungguh sangat menyesakkan dada karena bila mereka ditanyakan tentang para penyanyi Barat dari mulai era tahun 60-an hingga 90-an mereka dengan serta merta  dan dengan fasihnya dapat menjawab dengan tepat … sebuah ironi memang!. Kini yang dikenal hanyalah tinggal Yockie Suryoprayogo saja atau Deddy Dores saja namun mereka dikenal bukan sebagai sebagai kampiun musik cadas yang garang diatas panggung akan tetapi sebagai penyanyi dan pengarang lagu pop, kalaupun ada hanya tinggal Achmad Albar atau Donny Fatah  saja yang masih dikenal itu pun oleh para penggemar mereka saja (God Bless).

4 komentar:

  1. Terima kasih telah dimuat artikel saya

    Salam

    MH Alfie Syahrine

    ReplyDelete
  2. Sama-sama pak, artikel ini sangat bermanfaat, terimakasih juga karna Bapak/ Mas Alfie telah mengizinkan. Salam hormat saya

    ReplyDelete
  3. Mana ulasan tentang Koes Plus???
    Sepertinya para Rockers cadas hanay dibesarkan oleh 'ocehaan' si penulis atau admin saja. Faktanya Indonesia hanya mengenal Koes Plus!

    ReplyDelete
  4. Baca yang jeli mbak, ini kan sedang membahas musik rock bukan musik pop.

    ReplyDelete